أَيَّ مِهْنَةٍ تَخْتَارُ
اِعْتَادَ فَلَّاحٌ فَقِيْرٌ, فِي قَرْيَةٍمِنْ قُرَى مُدِيْرِيَّةِ بَنِي سُوَيْفِ, أَنْ يَتَجَاذَبَ الْحَدِيْثِ مَعَ أَوْلَادِهِ, بَعَدَ الْمَشَاءِ وَ قَبْلَ النَوْمِ.
وَ كَانَ الرَّجُلُ ذَكِيَّ الْفُؤَادِ, وَ لِذَلِكَ كَانَ لَا يَخْتَارُ إِلَّا الْمَوْضُوْعَاتِ الَّتى يَكُوْنُ مِنْ وَرَائِهَا تَعْلِيْمٌ لَهُمْ. وَ فِي ذَاتَ لَيْلَةٍ, سَأَلَ أَصْغَرَهُمْ وَ هُوَ شَعْبَانُ– وَ كَانَ عُمْرُهُ سَبْعَ سَنَوَاتٍ– عَمَّا يَرْغَبُ أَنْ يَحْتَرِفَهُ, بَعْدَ انْتَهَائِهِ مِنَ الدِّرَاسَةِ فِي الْمَكْتَبِ. فَقَالَ شَعْبَانُ: “أُرِيْدُ أَنْ أَكُوْنَ حَدَّادًا, فَأَتَّخِذَ لِي فِي الْقَرْيَةِ دُكَّانًا لَطِيْفًا, أَجْعَلُ الْكُوْرَ فِي رُكْنٍمِنْهُ. وَ عَلَى جَانِبَيْهِ أُثَبِّتُ كِيْرًا وَ سَنْدَانًا, فَأَشْعَلُالنَّارَ وَ أَضَعُ فِيْهَا الْحَدِيْدِ, وَ أُوَالِى النَّفْخَ بِالْكِيْرِ حَتَّى يَبْيَضَّ الْحَدِيْدُ فَأَطْرُقَهُ, وَ أُمَتِّعَ نَظَرِى بِرُؤْيَةِ الشَّرَرِ الْأَحْمَرِ يَتَطَايَرُ مِنْ تَحْتَ الْمِطْرَقَةِ, وَ أَصْنَعَ مِنْ الْحَدِيْدِ وَ هُوَ لَيِّنٌ الْفُؤُسُ وَ اللُّجُمَ, وَ السَّلَاسِلَ وَ الْمَعَاوِلَ وَ الْمَسَامِيْرَ وَ الْمَسَاجِلَ وَ الْمَسَاحِجَ وَ النِّعَالَ الْحَدِيْدِيَّةِ, وَ كَثِيْرًا غَيْرَهَا”.
وَ لَمَّا سَأَلَ يُوْنُسَ– وَ كَانَ عُمْرُهُ تِسْعًا, عَمَّا يَرْغَبُ فِيْهِ قَالَ: “أُرِيْدُ أَنْ أَكُوْنَ نَجَّارًا, فَأُشَارِكَ أَخِي شَعْبَانَ فِي صُنْعِ حَاجَات الْمَنَازِلِ, مِنْ شَبَابِيْكَ وَ أَبْوَابٍ وَ أَرْفُفٍ وَ سُقُوْفٍ وَ أَثَاثٍ, بِمِنْشَارِى وَ قُدُوْمِى وَ مِسْحَجِى وَ مِنْقَرِى”.
وَ لَمَّا سُئِلَ الْأَكْبَرُ, وَ هُوَ إِسْحَاقُ– وَ كَانَ عُمْرُهُ إِحْدَى عَشَرَةَ سَنَةً– قَالَ: “أُرِيْدُ أَنْ أَكُوْنَ زَرَّاعًا, فَأَنْهَضَ مِنْ فِرَاشِى مُبَكِّرًا, وَ أَخْرَجَ لِأَسْمَعَ تَغْرِيْدَ الطُّيُوْرِ, وَ أَتَمَتَّعَ بِرُؤْيَةِ الْكِلَإِ النَّضِيْرِ الْجَمِيْلِ الْخُضْرَةِ, وَ أَطْعَمَ الْبَقَرَ وَ الْخَلِيْلَ وَ الْأَغْنَامَ, وَ أَفْدِنَ وَ أَزْرَعَ وَ أَحْصُدَ ثَمَرَ أَتْعَابِى, مِنْ حُبُوْبٍ وَ بُقُوْلٍ وَ قُطْنٍ وَ فَوَاكِهَ مِنْ كُلِّ الْأَصْنَافِ”.
“Profesi Apa Yang Akan Engkau Pilih”
Seorang petani yang fakir yang tinggal disebuah desa dari desa-desa di daerah Bani Suwaif membiasakan diri untuk berdiskusi bersama anak-anaknya setelah makan malam dan sebelum tidur.
Dan laki-laki itu adalah seorang yang bijaksana, dan untuk itu dia tidak memilih sebuah tema kecuali tema-tema yang menjadi latar belakang pendidikan bagi mereka. Dan disuatu malam, dia bertanya kepada anak yang bungsu yaitu Sya’ban- dan umurnya tujuh tahun- tentang profesi yang dia inginkan, setelah ia lulus dari sekolah. Maka Sya’ban berkata (menjawab): “Aku ingin menjadi seorang pandai besi, aku akan menyewa sebuah toko yang bagus didesa, aku akan meletakkan sebuah tungku di sudutnya, dan disampingnya aku akan meletakkan blower dan besi landasan, kemudian aku akan menyalakan api dan meletakkan besi padanya, kemudian meniupnya dengan blower sampai besi itu memutih kemudian akupun akan menempanya, aku akan menikmati pemandangan dengan melihat bunga-bunga api yang berwarna merah yang beterbangan dari bawah palu (alat penempa), dan aku akan membuat dari besi yang lunak itu kapak, kendali kuda, rantai, cangkul, paku/baut, pahat , ketam, sepatu kuda/ terompah besi, dan banyak lagi dari selainnya”.
Dan ketika diabertanya kepada Yunus- dan umurnya sembilan tahun- tentang profesi yang dia inginkan dia berkata:” aku ingin menjadi seorang tukang kayu, aku aka bekerjasama dengan saudaraku Sya’ban dalam membuat kebutuhan rumah, yaitu jendela, pintu, rak, atap dan prabotan, dengan gergajiku, paluku, ketamku dan gurdiku”.
Dan ketika si sulung ditanya, yaitu Ishaq- dan umurnya sebelas tahun- dia berkata;” Sesungguhnya aku ingin menjadi seorang pekebun, aku akan bangun dari tempat tidurku dini hari, kemudian aku akan keluar umtuk mendengarkan kicauan burung-burung, aku akan bersenang-senang dengan melihat rerumputan yang segar indah dan hijau, kemudian aku akan memberi makan sapi, kuda dan kambing-kambing, dan aku akan membajak dan menanam dan memanen hasil susah payahku, berupa biji-bijian, sayur-sayuran, kapas dan buah-buahan dari segala jenis.
